Senin, 15 Juni 2009

SUSAH BAB, AWAS KANKER USUS!!

BILA Anda sering susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit
sebaiknya waspada. Bisa jadi  gangguan yang Anda alami merupakan

salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal.
 
Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter spesialis bedah

kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini mengabaikan
gejala sakit perut,susah buang besar dan perubahan siklus buang air besar.
Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya penyakit
kanker kolorektal.
 
¨Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker dapat dipicu oleh
gejala-gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang salah yang menyebabkan
kebiasaan buang air besar dan sembelit, ungkap Dr. Adil di Jakarta, Kamis
(28/2).
 
Menurut Adil, perubahan siklus buang air besar memang merupakan gejala yang
patut diwaspadai dalam mengantisipasi kanker kolorektal. Perubahan yang tidak
wajar atau siklusnya melebihi waktu transit harus dicurigai sebagai gejala.
 
¨Normalnya, waktu transit yang dibutuhkan makanan dari sejak  masuk hingga
dikeluarkan lagi  melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72 jam.  Jika waktunya
melebihi angka tersebut, sebaiknya harus berhati-hati.
 
Selain perubahan siklus buang air besr, tanda lainnya yang bisa dideteksi
sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat
buang air besar. Tanda lainnya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang
jelas, rasa sakit di perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh
meskipun sudah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan kadang-kadang dapat
diraba adanya massa atau tonjolan pada perut.
 
Prevalensi meningkat
Kanker kolorektal sendiri merupakan salah satu jenis kanker yang jumlah kasus
atau tingkat prevalensinya cukup tinggi. Di Indonesia sejauh ini memang belum
ada data akurat mengenai jumlah kasus secara rinci. "Tetapi di seluruh
dunia, berdasarkan laporan terakhir, kanker kolorektal menempati urutan kedua
dari daftar peenyakit kanker yang paling banyak diderita," ujarnya.
 
Meski belum ada data akurat, kata Adil, kasus kanker kolorektal di Indonesia
cenderung mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat.
Indikasi peningkatan itu misalnya dapat tercermin dari sebuah riset seorang 
peneliti di Semarang yang menemuan adanya kenaikan angka kejadian dari tahun
1970 hingga 1980.
 
"Kalau sebelumnya angka kejadian per 1000 itu rata-rata pada perempuan 2,4
dan pada pria 2,2, ternyata kemudian ada peningkatan menjadi 3,1 hingga 3,2.. 
Jika di tanah air ada peningkatan kasus, sebaliknya di negara maju angka
kejadian kanker kolorektal justru menurun,"  terang Adil.
 
Di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta sendiri, lanjut Adil, kanker kolorektal
masuk dalam empat besar dari 10 jenis kanker yang paling banyak dialami para
pasien.  Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55-64 tahun. Namun saat ini
cukup banyak juga usia 35-44 tahun yang telah menderita kanker usus besar dan
rektum. Rata-rata mereka yang berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam
stadium lanjut. 
 
"Oleh sebab itulah, penting artinya untuk mengetahui gejalanya dari awal
dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya hidup yang dapat memicu risiko
terjadinya kanker ini seperti pola makan tak sehat, stres, merokok dan
alkohol," jelasnya.

Back to Melileagfo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar